KOPI KUDUS DIMINATI INVESTOR ASING

Investor luar negeri tertarik dengan potensi tanaman kopi yang terdapat di Kecamatan Dawe, untuk dikembangkan menjadi komoditas industri. Investor yang menyatakan minatnya terhadap pengembangan komoditas tanaman kopi yang terdapat di Desa Colo dan Japan tersebut, berasal dari Swiss.

Hal itu dikatakan Kasi Penanaman Modal pada Kantor Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) Kudus, Aryanto, Rabu 24 Oktober 2012. Ia mengatakan, investor tersebut memang khusus bergerak di bidang usaha kopi dengan mencari komoditas tanaman kopi berkualitas, terutama yang berada di wilayah pedesaan. Investor tersebut, juga mensyaratkan lokasi tanaman kopi tersebut harus berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut.

Selama ini, komoditas tanaman kopi asal Desa Colo dan Japan memang sudah lama ada. Bahkan, sudah terkenal cita rasa khasnya berbeda dengan tanaman kopi di daerah lain. Akan tetapi, lanjut dia, luas areal tanaman kopi yang ada sekarang, belum memadai untuk dikembangkan menjadi komoditas industri, sehingga perlu tambahan tanaman kopi yang lebih banyak lagi.

Ketertarikan investor asal Swiss tersebut, diketahui ketika mengikuti “Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2012” di Jakarta yang dihadiri investor lokal dan luar negeri.

Sedangkan potensi yang ditawarkan pada pertemuan bisnis tersebut, yakni Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kudus yang bisa dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat pupuk organik, objek wisata di Desa Colo, dan gedung pertemuan “Ngasirah” yang ada di Jalan Jenderal Sudirman untuk dikembangkan menjadi gedung perkantoran. Penawaran gedung pertemuan “Ngasirah” tersebut, katanya, sudah dilengkapi dengan hasil pra Feasibility Study (FS) atau pra studi kelayakan untuk menarik investor.

Berdasarkan hasil pra studi kelayakan tersebut, kata dia, kompleks gedung pertemuan yang memiliki lahan seluas 9.610 meter persegi tersebut bisa dijadikan bangunan kompleks perkantoran berlantai 18 hingga 20.

Untuk membangun gedung berlantai 20, memang dibutuhkan biaya investasi sekitar 28,97 juta dolar AS. Ia mengatakan, lokasi yang ditawarkan tersebut juga berada di kawasan sekunder yang padat pemukiman penduduk.

Selain itu, lanjut dia, ada pula investor yang tertarik di bidang industri garmen, mengingat beberapa tahun yang lalu Kudus juga pernah memiliki beberapa industri garmen.

Hanya saja, luas lahan yang diminta mencapai 15 hektare pada satu kawasan belum bisa dipenuhi. Sementara lahan yang tersedia, terutama yang berada di dekat jalan raya sudah dimiliki oleh investor lokal. (Roy RSK)

You may also like...

Tinggalkan Balasan