Kerbau Dan Gunungan Iringi Kirab Buka Luwur Punden Dan Belik

Kudus, Radiosuarakudus.com- Kirab Buka Luwur Punden dan Belik se Kudus, terdapat pula arak-arakan gunungan yang berjumlah kurang lebih 63 gunungan. Kemudian, istimewanya dari kirab tersebut juga ada kerbau yang ikut diarak. Yang merupakan persembahan dari Bupati Kudus Hartopo.

Start kirab dilaksanakan dari Pendapa Kabupaten Kudus dan rute perjalanan melewati alun-alun Simpang Tujuh, melintas Jalan Sunan Kudus hingga finish di Menara Kudus. Kirab tahun ini diikuti 64 punden dan belik di Kudus yang tersebar di sembilan kecamatan.

Namun kali ini, hanya 10 persennya dari jumlah punden dan belik yang mencapai sekitar 657. Beragam gunungan yang dibawa peserta, ada sayur-sayuran berupa kacang panjang, terong, sawi dan lainnya.

Kemudian, ada yang mempersembahkan buah-buahan, hasil panen ketela dan lainnya. Kirab Buka Luwur Punden dan Belik ini wujud dari rasa syukur atas hasil bumi dan diserahkan ke Menara Kudus, yang nantinya diolah untuk berkatan nasi uyah asem yang dibagikan ke masyarakat, pada saat Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 10 Muharam di Menara Kudus.

Steering Committee Buka Luwur Punden dan Belik Abdul Jalil, mengatakan kirab ini tahun ketiga, sebelumnya dilaksanakan 2018 dan 2019 dan dua tahun vakum. Pihaknya mengatakan, kirab dari punden dan belik ini sebagai wujud penghormatan kepada Kanjeng Sunan Kudus dan juga rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah di tahun ini.

”Kirab ini juga sebagai pemersatu cultur budaya di Kudus. Tidak ada sekat antara Kudus Kulon (Barat) dan Kudus Wetan (Timur). Budaya yang melebur jadi satu,” ungkapnya.

Kirab tersebut diikuti beberapa punden diantaranya Punden Makam Syaikh Abdullah Gringsing, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu; Sumur Kauman, Belik Sri Growong, Kecamatan Kaliwungu; Sendang Pangilon, Desa Terban, Kecamatan Jekulo dan lainnya.

Bupati Kudus Hartopo, mengatakan acara ini merupakan bentuk menyatunya pemerintah kabupaten Kudus dan masyarakat dengan dinobatkannya sembilan camat menjadi bapak punden dan belik di Kudus. Yang penting tetap protokol kesehatan (Prokes).

”Prosesi ini bisa diselenggarakan lagi dan wujud syukur atas hasil bumi. Dan akulturasi budaya yang harus dilestarikan,” terangnya. (Roy Kusuma – RSK)

 

 

 

 

About

You may also like...

Comments are closed.