Mlatilor Miliki Kampung Pecel

Kudus, Radiosuarakudus.com- Ada satu dukuh di Desa Mlatilor, Kota Kudus yang mendapat julukan sebagai kampung pecel. Pasalnya, kuliner yang sudah banyak dikenal itu sudah cukup lama dijajakan oleh warga sekitar. Selama ini kuliner pecel sudah banyak dikenal karena hampir ditiap daerah selalu ada makanan ini. Sebut saja pecel Madiun, pecel Solo, pecel Colo yang dikenal karena menggunakan tanaman pakis dan lainnya. Tergantung selera masing – masing dalam menikmati makanan pecel ini. Karena tiap daerah memiliki khas sendiri dalam mengolah kuliner pecel walau sebetulnya hampir sama.

Rufianti (55) warga Rt. 04 Rw. 3 Dukuh Mlatilor mengatakan disekitar rumahnya terdapat 20 orang perempuan yang berprofesi sebagai penjual pecel keliling. Mereka sejak pukul 07.00 pagi sudah mulai berangkat dari rumah dan mangkal dibeberapa tempat. Seperti di pasar, rumah sakit dan perkantoran. Ketika berjualan mereka juga memakai kebaya dan jarik yang merupakan ciri khas penjual pecel dari dukuh Mlatilor ini.

“Saya sendiri sejak tahun 2003 hingga sekarang berjualan pecel mas. Awal berjualan saya sering keliling dan mangkal di pasar Pucangkerep. Pecel saya juga selalu habis, dan bisa membawa uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari – hari mas. Tapi sejak sekitar 5 tahun  ini saya sudah tidak keliling dan mangkal lagi, kaki saya sakit dan sekarang mangkal dirumah. Saya bersyukur, karena meski mangkal dirumah banyak yang datang bahkan dari desa tetangga juga pada datang ke sini,” kata Bu Tik panggilan akrabnya, Senin (22/3/2021).

Rufianti mengaku, berjualan pecel ini karena meneruskan mertuanya. Di dukuh ini kata dia, sebagian besar dulunya adalah para pendatang dari Solo dan bermukim hingga sekarang. Maka  dari itu, pecel yang dijual disini adalah khas pecel Solo karena ada taburan kelapanya.

“Lumayan mas, penghasilan rata – rata per hari bila ramai seperti hari Minggu bisa mendapatkan uang Rp. 500.000. Kalau hari – hari biasa, bisa mendapatkan uang antara Rp. 350.000 – Rp. 400.000 per hari. Sayangnya, pedagang pecel disini masih ibu – ibu sedangkan yang punya anak perempuan malah banyak yang kerja di pabrik atau kantor. Gak ada penerusnya mas,” ujar  Rufianti.

Sementara itu Kades Mlatilor, Zaenal Arifin mengatakan sebelum ada pandemi disaat buka luwur makam sesepuh Mbah Lebai selalu diadakan acara seribu pecel. Sedangkan untuk memunculkan kampung pecel di dukuh itu, pihaknya berencana akan membuat pusat kuliner di tanah milik desa. Harapannya, kuliner khas kampung pecel dapat terangkat sehingga bisa lebih dikenal oleh masyarakat desa lain.

“Kami berharap, nantinya kuliner pecel itu tidak hanya dijual secara tradisional tetapi bisa  diolah dan dibungkus dengan lebih menarik lagi dan kekinian. Sehingga kaum milenial bisa menyukai  kuliner pecel itu. Dengan kemasan yang lebih bagus dan menarik tentunya akan lebih menjual,” tutur Zaenal Arifin.

Zaenal juga mengakui, pihaknya memang belum pernah memberikan bantuan dana untuk modal usaha. Tetapi dia mengaku siap membantu memberikan rekomendasi bila ada dari mereka yang meminjam modal lewat bank.

“Sementara kami hanya bisa membantu memberikan rekomendasi untuk permodalan ke bank. Tentunya rekomendasi kami berikan kepada mereka yang benar – benar memiliki reputasi “baik” dalam mengembalikan cicilannya ke bank,” tutupnya (Roy Kusuma – RSK)

 

 

 

About

You may also like...

Comments are closed.