Tari Bun Ya Ho Kearifan Lokal Desa Megawon

Kudus, Radiosuarakudus.com- Tari Bun Ya Ho yang berati mengajak kebaikan merupakan budaya kearifan lokal masyarakat Desa Megawon Kecamatan Jati. Tari tersebut diciptakan oleh seorang ulama yakni Kyai Haji (KH) Abdul Jalil pada sekitar tahun 1950 an. KH. Abdul Jalil merupakan ulama asal Kebumen yang menetap di Desa Megawon karena menikah dengan perempuan warga setempat, yakni Hj. Turah.

Menurut Kepala Desa Megawon, Nurasag, dasar diciptakannya tarian Bun Ya Ho itu karena  KH. Abdul Jalil berkeinginan agar di Desa Megawon harus ada tarian yang ditampilkan saat terdapat hari – hari besar keagamaan baik di masjid maupun bagi warga setempat yang memiliki hajat.

“Saat itu masih cukup banyak warga Desa Megawon yang masih minim pengetahuan agamanya dan banyak melanggar syariat Islam. Dengan keberadaan tari Bun Ya Ho ini KH. Abdul Jalil berharap warga Desa Megawon lebih memahami agama Islam. Tarian ini sebagai bentuk wadah untuk mengajak warga berperilaku baik dan terpuji,” tutur Nurasag, Selasa (13/6/2023).

Ternyata lanjut Nurasag, keberadaan tari Bun Ya Ho saat itu sangat menarik masyarakat untuk hadir ketika tarian itu ditampilkan. Dan disela – sela tarian itu, KH. Abdul Jalil menyelingi dengan siar agama Islam kepada masyarakat setempat. Cara siar agama Islam yang singkat dan mudah membuat masyarakat lebih mudah memahami.

“Bahkan kala itu tari Bun Ya Ho yang sudah menjadi indentitas Desa Megawon juga seringkali ditampilkan di desa lainnya. Namun seiring waktu, tari Bun Ya Ho sedikit demi sedikit tergerus oleh kesenian dan hiburan yang lebih menarik yakni layar tancap kebudayaan dari barat. Lalu pada tahun 2014 kebetulan saya menjadi kades Megawon kemudian merevitalisasi tari Bun Ya Ho hingga sekarang ini,” tandas Nurasag.

Dan tarian ini kata dia,  seringkali ditampilkan bila ada kegiatan – kegiatan desa. Seperti halnya acara Apitan atau sedekah bumi yang berlangsung pada Sabtu (10/6/2023) lalu. (Roy Kusuma – RSK)

About

You may also like...

Comments are closed.