PENDERITA AIDS DI KUDUS SEMAKIN BERTAMBAH

Kudus – Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) dalam kehidupan bermasyarakat masih mengalami diskriminasi. Ada beberapa kasus ditemui pengidap HIV-AIDS dikucilkan dari lingkup sosial masyarakat bahkan sampai diusir dari tempat tinggalnya. Seperti yang diungkapkan Eny Mardianti, koordinator Kelompok Pendampingan Sebaya (KDS) Kudus, masyarakat masih takut bila tertular dengan virus mematikan tersebut.
ODHA seringkali mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya. Karena itu kami terus melakukan sosialisasi dan menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat untuk meminimalisasi diskriminasi tersebut.
Pendampingan terus dilakukan, mulai dari pengawasan minum obat (PMO) sampai mengubah pola hidup yang buruk menjadi baik. Eny menambahkan perlu juga pembenahan pelayanan paramedis. Eny menambahkan kasus HIV-AIDS dari Januari-Februari 2013 sudah ada 21 kasus dan meninggal empat orang. Jadi jumlah kasus sejak 2007 hingga Februari 2013, mencapai 133 pengidap HIV-AIDS. Sedangkan untuk anak-anak yang terkena HIV/AISD jumlahnya enam anak, dua diantaranya meninggal dunia. Eny mengatakan selama melakukan pendampingan ada 4-5 kasus HIV/AIDS per bulan.
Akibat stigmatisasi negatif terhadap ODHA, pada akhirnya mereka menjadi anggota masyarakat tersembunyi dan enggan muncul ke permukaan. Karena itu, menjadi lebih sulit dalam penanganannya.
Selain itu, pemerintah dinilai kurang optimal. Di antaranya, pelaksanaan PMO bisa dianggarkan tapi sejauh ini, tidak ada anggaran sama sekali. Bahkan, ketika diusulkan oleh dinas terkait, dicoret dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD).
Saat ini, pihaknya tengah aktif melakukan penjangkauan untuk merangkul ODHA. Eny menambahkan masih kesulitan untuk mengajak mereka yang positif mengidap HIV-AIDS untuk berobat.Meski ada jaminan identitas dirahasiakan, tetap saja tidak mudah untuk mengajak mereka. Dan kekhawatiran terbesar adalah semakin banyak bayi-bayi yang lahir dari ibu pengidap HIV-AIDS. (Roy RSK)

You may also like...

Tinggalkan Balasan